Si Manis Ubi Jalar ( Ipomoea batatas )

Si Manis Ubi Jalar ( Ipomoea batatas )
Oleh Annisa Handayani*

Kalian kenal dengan yang namanya ubi jalar? Si manis ubi jalar temannya Si manis jembatan ancol itu lho! Hehehehe….., pastinya bukan itu. Umbi batang yang biasa disebut ketela rambat atau orang Jawa biasa menyebutnya telo ini ternyata berasal dari Negeri Paman Sam lho, tepatnya Amerika Tengah. Menurut situs Waritek Bantul, ubi jalar ini mulai disebarkan oleh orang-orang Spanyol ke daerah Asia pada abad ke-16. Berarti ubi jalar termasuk tanaman keturunan bule ya!
Ubi jalar kini mulai menjadi makanan favorit masyarakat Jepang dan dibudidayakan, namun sayangnya di Jepang macam-macam umbi tidak sebanyak di Indonesia. Di Indonesia ada lebih dari 50 jenis tanaman berumbi yang memiliki kandungan gizi sangat tinggi.
Varietas atau kultivar atau klon ubi jalar yang ditanam di berbagai daerah jumlahnya cukup banyak, antara lain: lampeneng, sawo, cilembu, rambo, SQ-27, jahe, kleneng, gedang, tumpuk, georgia, layang-layang, karya, daya, borobudur, prambanan, mendut, dan kalasan(Anonim, 1997).
Umbi dapat digunakan sebagai makanan pengganti nasi yang memiliki unsur karbohidrat untuk memberi energy dalam melakukan segala kegiatan. Selain itu, umbi memiliki unsur protein yang tidak kalah tinggi dengan padi dan gandum, khususnya ubi jalar yang juga mengandung antiosiamnin. Antiosiamnin merupakan salah satu pigmen warna pada tumbuhan. Pigmen ini tidak dapat ditemukan pada padi ataupun gandum sehingga membuat ubi jalar sangat istimewa. Tidak hanya itu, kandungan beta karoten yang berfungsi sebagai antioksidan membuat para ahli berpikir menjadikan ubi jalar makanan yang secara tidak langsung dapat menyembuhkan diabetes dan mencegah penyakit kanker. Kadar gula yang tidak begitu tinggi membuat penderita diabetes tertarik untuk mengkonsumsinya.
Pada beberapa daerah di Indonesia, umbi khususnya ubi jalar merupakan komoditi bahan makanan pokok. Ubi jalar menyimpan cadangan makanan berupa tepung pada bagian yang membesar dan bagian tersebut yang disebut umbi. Karena cadangan makanan tersebut, tanaman ubi jalar dapat hidup dalam kondisi lingkungan subur ataupun kering.
Herannya mengapa kemelimpahan ini tidak banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Pemanasan global yang saat ini terjadi di bumi mengakibatkan musim yang tidak menentu. Musim kemarau yang lebih panjang membuat beribu-ribu hektar sawah kering, sehingga terancam gagal panen. Hal ini tidak lain akan mengakibatkan krisis pangan di Indonesia bila rakyat Indonesia tidak mulai memikirkan tanaman lain yang dapat dijadikan pangan pengganti. Ubi jalar memiliki berbagai kandungan gizi yang tidak kalah tinggi dibanding padi dan gandum yang menjadi komoditi pangan pokok. Bila ubi jalar sudah dapat menggan-tikan peranan padi, secara tidak langsung masyarakat membantu terwujudnya ketahanan pangan di Indonesia.
Bagaimana caranya agar masyarakat dapat menikmati ubi jalar dengan penampilan yang berbeda?
Masyarakat cenderung bosan terhadap sesuatu yang sering atau hampir setiap saat mereka kerjakan. Begitu pula halnya bila setiap kali makan ubi jalar yang kita kenal hanya ubi jalar rebus. Kebosanan tersebut yang membuat masyarakat perlahan-lahan meninggalkan ubi jalar. Namun sekarang banyak orang yang mulai menyadari betapa pentingnya ketahanan pangan, sehingga memikirkan cara lain memanfaatkan ubi jalar ini. Siapa tahu ternyata ubi jalar dapat diolah menjadi es krim, roti, kue, bahan dasar mie, sirup, dan wain. Dewa Saprapta, Kepala Lab Biopestisida Fakultas Pertanian Unud, yang melirik usaha ini beberapa tahun lalu sehingga mampu menarik masyarakat untuk mencoba dan membuat kreasi baru berbahan ubi jalar. Tidak sia-sia, ternyata benar. Sekarang kita tidak hanya dapat menikmati kreasi ubi jalar di Bali, berbagai daerah sudah melirik usaha tersebut bahkan membuat kreasi lain. Cake telo, bakpao telo, bakpia telo bahkan burger telo kini diperkenalkan pada masyarakat sebagai makanan alternative berbahan ubi jalar. Untuk beberapa orang yang gemar makan makanan ringan, ada keripik telo yang mulai terkenal belakangan ini dan sebagai menu makan siang, seperti campuran dengan beras yang menjadi nasi ungu bergizi tinggi.
Berdasar dari usaha ini, diupayakan agar pemerintah menyarankan dan mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi umbi-umbian.
“Masyarakat luas juga diharapkan mendukung upaya memasyarakatkan umbi-umbian dengan mengonsumsinya, selain makanan pokok beras,” harap Dewa Suprapta kepada masyarakat(Anonim, 2004).

DAFTAR RUJUKAN
Anonim. 1997. Budidaya Pertanian Ubi Jalar/Ketela Rambat (Ipomoea batatas), (online), (www.warintek.com, diakses tanggal 3 Agustus 2008).
Anonim. 2004. Umbi-umbian, Makanan Favorit Jepang, (online), (www.Gatra.com, diakses tanggal 3 Agustus 2008).
Anonim. 2004. Umbi-umbian Bisa Jadi Makanan Bergengsi, (online), (www.Gatra.com, diakses tanggal 3 Agustus 2008).
Iun. 2005. Mesti Bermanfaat dan Punya Keunggulan Ilmiah, (online), (www.bali-travelnews.com, diakses tanggal 3 Agustus 2008).

*Mahasiswi Universitas Negeri Malang
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s